Kenangan dan Rindu Yang Tertinggal


-->
Siang hari ini, sinar matahari tidak begitu sengit menyengat. Padahal jam menunjukan pukul setengah dua siang di jam kulit senada kulit yang dipakai Alika saat itu. Namun udara sepertinya tidak berpihak kepadanya. Alika yang tengah flu saat itu merasa tidak nyaman dengan angin di bulan November, yang menerpa dirinya dan membuat syal yang melilit di lehernya sedikit melonggar. Ia membetulkan syalnya saat Bima datang menghampirinya. Susah payah ia berlari menyusul sahabat cerewetnya itu. Ya, hari ini mereka akan mengadakan survey ke beberapa tempat kumuh untuk mencari beberapa berita yang dibutuhkan untuk melengkapi isi koran berita sekolah mereka. Alika dan Bima adalah dua anak remaja Sekolah Menengah Atas yang dapat bersahabat sejak awal pertemuan mereka. Di sekolah yang baru mereka kenal pula.

Di sekolah Alika dan Bima, merupakan salah satu murid yang menjadi anggota bagian dari “NewSchl” majalah terbitan sekolah mereka yang tiap bulannya selalu mengeluarkan terbitan terbarunya dengan tema yang berbeda di setiap edisinya. Untuk tema di bulan ini mereka mengangkat cerita Kehidupan Kaum Yang Terasingkan. Untuk itulah Alika mau bersusah payah ikut bersama Bima mencari beberapa data dan info yang mungkin bisa di kemmbangkan menjadi sebuah berita yang menarik, walaupun kondisinya sedang tidak baik hari ini.
Ayo, lik kita berangkat, mumpung masih adem ayem nih suasananya”, ledek Bima. “Yeeee, ini mah bukan adem Bim, tapi emang mendung mau hujan. Udah deh yuk kita capcus, naik motor kamu aja ya Bim, biar cepet nyampe”, pinta Alika. “sippp, siap senorita!!hahahahaha”, Bima berlagak memberi hormat. Alika hanya diam saja, ia sedang tidak minat membalas lelucon temannya itu. Rasanya bagi Alika ingin sekali cepat menyelesaikan tugas ini dan segera pulang kerumah untuk segera tidur, menunggu sampai malam menjelang. “Haaaaaa….andai saja aku bisa,” ucap Alika perlahan.
Senja mulai turun keperaduannya ketika Alika dibangunkan dari tidur sore oleh sang bunda. “Lik….Likaaa..ayo bangun! Udah mau maghrib ini, kamu mau terus tidur?” ujar bunda. “Katanya mau bantu bunda nyiapin makan malam”, tukas beliau. “Iya bun, ini Alika bangun kok, hehe….”. Dengan senyum khasnya Alika turun menghampiri asal suara dari dapur yang tidak lain suara ibunya. Alika sudah merasa lebih baik dari siang tadi. Setidaknya ia sudah tidak flu, paling hanya batuk kecil yang masih sering terjadi. Tapi Alika tidak mau melewati malam ini begitu saja.

Yah, malam ini Alika dan bundanya punya agenda acara makan malam di taman kecil rumah mereka. Memang tidak ada suatu special yang patut dirayakan, namun ia dan bundanya sering kali melakukan hal-hal kecil seperti ini “menyenangkan dan berkesan”, jawab Alika ketika pernah suatu saat Bima bertanya mengapa begitu sering mereka melakukan kegiatan tersebut.
Pukul 8 tepat. Alika dan bunda telah siap di taman yang terdapat meja bundar tua coklat dan dua kursi, diatas meja tersebut telah tersusun 4 buah piring lauk 1 mangkuk sop jamur bikinan Alika dan 2 gelas air putih juga jus mangga segar di dalam wadah unik berbentuk guci mini. Mereka memulai acara makan malam itu tanpa suara sampai makanan di piring masing-masing habis, masih saja dalam kehampaan, sunyi dan hening.
Saat makan telah selesai. Alika memberanikan diri untuk membuka pebincangan diantara mereka, ia ingin untuk mulai bercerita kepada bundanya. Mengenai sesuatu yang rasanya sudah lama sekali ingin ia ungkapkan. Dan rasanya tepat untuk membicarakannya sekarang. Saat peringati 2 tahun kepergian ayahnya.
“Bunda, aku kangen sekali sama ayah, ayah lagi apa ya disana?” ujar Alika sedikit sendu. Bunda hanya bisa diam sambil terus membereskan meja makan dari piring-piring kotor. “Bunda, bisa gak ya nanti kita kumpul bareng ayah disana?” ucap Alika lagi sambil melirik ibunya yang masih saja asik berkutat dengan piring-piring kotor. “Bunda, jawab dong pertanyaan Alika, masa di cuekin terus sih” sungutnya. Sambil menghela nafas panjang, bunda menarik tangan anak gadisnya itu untuk kembali ke taman. “ayo, ikut bunda” ajak beliau. Alika hanya menurut saja sambil terus mengikuti langkah bunda menuju taman.

“Tadi alika mau tanya apa sama bunda? Disini saja ya kita mengobrolnya lebih tenang dan sejuk jika kita mau mengobrol” tegas bunda. “Tentang ayah bun, Alika kangen sekali sama ayah” terang Alika sendu.
“Oh, itu ya.” Hmm bunda juga merasakan hal yang sama dengan yang kamu rasakan kok sayang” ujar beliau. “Tapi kita tidak boleh egois, Tuhan lebih tau apa yang baik untuk kita” jelas bunda.
“Nggak! Tuhan gak tau apa yang Alika butuhin!!” dengan nada keras. “Alika masih butuh ayah, bun, Alika kangen ayah……sangat”, sesengguknya.
“Kenapa ayah lebih cepat dipanggil bunda, kenapa….?”, tanyanya lagi.
“Di saat Alika beranjak dewasa dan butuh seorang panutan yang tegas dari sosok ayah, tapi kenyataannya sekarang gini…Haaaah Alika gak ngerti dengan apa yang Tuhan pikirkan”, marahnya. “Tuhan gak adil, dia gak sayang sama kita bun”,teriak Alika.
Dengan lembut bunda menarik tubuh Alika ke pelukannya. Saat itu Alika sudah tak kuasa membendung tangisnya, ia menangis sejadi-jadinya karena hal ini di rasanya sudah cukup ia pendam sendiri. Dan bunda maklum keadaan itu.
“Sudah cukup Alika mengomelnya?” tanya bunda perlahan. Dengan muka sembab alika mengangguk.
“Lika, Tuhan lebih tau apa yang baik untuk kita. Lagipula, ayah pasti sudah tenang dan nyaman di sisi Tuhan. Jangan tambah beban ayah lagi ya?” tegas bunda.
“Sebenarnya ayah juga tidak pernah meninggalkan kita sepenuhnya kok. Tau kenapa bunda sering mengadakan makan malam kita di luar rumah, di taman ini? tanya bunda. Alika menggeleng.
“Karena ada ayah”, bisik bunda. “Dimana?”, tanya Alika antusias sambil melihat kanan kirinya berfikir siapa tau saja ada ayahnya dibalik gelap hijau tua rumput di taman kecil itu.
“Di langit, sayang. Lihat, bintang yang paling terang dan berkerlap-kerlip itu jelmaan ayah”, ujar bunda. “Tuhan tidak pernah mengambil ayah seutuhnya tapi melahirkan kembali ayah dengan sosok yang baru, yang tidak hanya dapat menyinari kita berdua, kamu dan bunda, tapi juga dapat membuat orang lain merasa senang dengan sinar ayah yang terang bersinar di malam hari”, lugas beliau dengan senyuman yang menghias di pipinya yang sudah mulai keriput karena usia. Namun, Alika masih bisa belum menerima kenyataan dengan apa yang dilihatnya. Ia hanya berharap dapat bertemu dengan ayahnya walaupun untuk sekali ini saja. Benar-benar ayahnya.
“Tapi itu hanya bintang bun, Lika ingin ayah, sosok ayah yang sangat aku rindukan sudah 2 tahun lamanya”, tangis Alika kembali meledak.
“Alika, kadang dalam hidup kita harus memilih namun ada kalanya dalam hidup kita harus menjalani apa yang telah digariskan Tuhan. Jangan lagi lika berfikir Tuhan tidak sayang sama kita. Ia sangat sayang sama kita, karena itu diberinya kepada kita hal seperti ini, agar kita bisa menjadi hamba-Nya yang lebih bertaqwa”, tutur bunda.
“Mungkin sekarang kamu masih belum bisa terima dengan kenyataan ini. Tapi Bunda yakin, suatu saat nanti pasti kamu menjadi seorang wanita yang tegas dan berani menghadapi dunia. Karena kita sudah lebih dulu di beri cobaan ini daripada yang lainnya, yakan?”. “Lagi pula Alika kan punya sosok sahabat seperti Bima yang selalu ada dan menjadi penjaga lika, kalo bunda tidak bisa menjaga. Bunda rasa kamu pasti bisa mendapatkan sayang dari Bima, yang selalu ada di samping kamu sayang”. Senyum ulas bunda kembali terhias di wajahnya. Dengan pelan ia mambelai rambut anak kesayangannya itu. Kecupan hangat bunda mendarat tepat di kening Alika yang sudah mulai dapat mengatur emosinya, yang sedari tadi menangis tersedu mengingat dan merindukan kehadiran sosok seorang ayah di hidupnya. Kadang ia merasa iri sekali kepada teman-temanya yang masih dapat berkumpul bersama keluarga mereka, lengkap tanpa kehilangan seorang pun.
“Sudah yah, Alika tidak boleh menangis lagi. Alika harus jadi perempuan yang tegas dan tidak mudah menangis, seperti bunda”.
“Iya bun, aku janji ini tangisan terakhirku untuk masalah ini. Alika janji akan jadi sosok yang bunda inginkan. Aku ingin jadi seperti bunda” ujar Alika penuh semangat. Dalam hati ia bersyukur karena memiliki seorang bunda seperti bundanya itu. Bunda yang selalu dapat meredam dan memecahkan pikiran egois dalam dirinya. Ia juga bersyukur memiliki seorang teman seperti Bima, yang selalu hadir menemani hari-harinya. Entahlah sepertinya Alika memiliki suatu rasa yang berbeda kepada Bima. Namun, ia tidak mau ambil pusing karenanya. Ia cukup senang dengan Bima dapat selalu menemani hari-harinya. Biarlah waktu yang merubah rasa itu. Yang ingin Alika lakukan saat ini hanyalah duduk di taman kecil itu bersama bunda, sambil memandangi bintang berkerlip. Dalam hati Alika berujar semoga ia dapat terus melihat bintang itu bersinar di hatinya walau malam telah habis.

Komentar

Postingan Populer